Kamis, 26 September 2013

7 Tradisi Dalam Komunikasi

TUGAS TEORI KOMUNIKASI




TRADISI - TRADISI DALAM KOMUNIKASI

Dalam ilmu komunikasi, penelitian terhadap gejala-gejala atau realitas komunikasi telah berkembang sejak lama sehingga dalam ilmu komunikasi dikenal tradisi-tradisi yang unik. Seorang Profesor komunikasi Universitas Colorado, Robert Craig, telah memetakan tujuh (7) bidang tradisi dalam teori komunikasi yang disebut sebagai 7 tradisi dalam Griffin(2000:22-35) , yakni :

1.        Tradisi Komunikasi Semiotika
A.        Apa itu Semiotika

       Semiotika adalah ilmu tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja. Tradisi semiotik terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda memrepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan, kondisi diluar tanda – tanda itu sendiri. 

B.        Asumsi Dasar Tradisi Semiotika
Gagasan utama dalam tradisi ini adalah konsep dasar dalam memaknai sebuah tanda yang didefinisikan sebagai sebuah stimulus untuk menunjukkan kondisi lain. Misalkan ketika kita melihat sebuah asap maka hal tersebut menandakan adanya api.
Tiap simbol antara masyarakat satu dan masyarakat lain akan berbeda maknanya ketika digunakan dalam berkomunikasi. Dengan  perhatian pada tanda dan simbol, semiotik menyatukan kumpulan teori-teori yang sangat luas dan berkaitan dengan bahasa, wacana dan tindakan-tindakan nonverbal. (Littlejohn, 2009 : 54).
Semiotik merupakan ilmu yang memiliki segi keunikan tersendiri. Budaya menjadi aspek yang esensial dalam kajian tradisi ini, sebab budaya menentukan tiap makna yang terkandung dalam sebuah simbol. Oleh sebab itu dalam semiotik tanda memiliki sifat arbitrer. Kebanyakan pemikiran semiotik melibatkan ide dasar triad of meaning yang menegaskan bahwa arti muncul dari hubungan di antara tiga hal: benda(atau yang dituju), manusia (penafsir), dan tanda.
Pola kajian dalam tradisi semiotik ini tidak hanya sekedar memaknai setiap bentuk tanda, tetapi juga memiliki aspek penting dalam melakukan persuasif terhadap orang lain. Pada titik inilah kajian semiotik memiliki segi keunikan tersendiri, yaitu bagaimana memaknai tanda dan mempersuasif orang lain dengan pemaknaan terhadap tanda tersebut. Diantara sekian banyak pakar tentang semiotika ada dua orang yaitu Charles Sanders Peirce dan Ferdinand de Saussure yang dapat dianggap sebagai pemuka-pemuka semiotika modern, kedua tokoh inilah yang memunculkan dua aliran utama semiotika modern. Pierce mendefinisikan semiosis sebagai hubungan diantara tanda, benda dan arti. Tanda tersebut merepresentasikan benda atau yang ditunjuk di dalam pikiran si pemikiran penafsir.

C.        Varian Dalam Tradisi Semoitika
Tradisi Semiotika itu sendiri terbagi atas tiga variasi, yaitu:
a)   Semantic (bahasa), merujuk pada bagaimana hubungan antara tanda dengan objeknya atau tentang keberadaan dari tanda itu sendiri.
b)   Sintaktik, yaitu studi mengenai hubungan di antara tanda. Tanda tidak pernah sendirian mewakili dirinya, tanda adalah selalu menjadi bagian dari sistem tanda yg lebih besar (kompleks). Sintaktik memungkinkan manusia menggunakan berbagai kombinasi tanda yang sangat banyak untuk mengungkapkan arti atau makna.
c)    Paradigmatic, melihat bagaimana sebuah tanda membedakan antara satu manusia dengan yang lain atau sebuah tanda bisa saja dimaknai berbeda oleh masing-masing orang sesuai dengan latar belakang budayanya.
Keunggulan semiotika terletak pada ide-ide tentang kebutuhan akan bahasa umum dan identifikasinya tentang subyektifitas sebagai penghalang untuk memahami.

2.       Tradisi Komunikasi Fenomonologi
A.        Apa itu Fenomonologi
Tradisi fenomenologi ini berkonsentrasi pada pengalaman pribadi termasuk bagian individu-individu yang ada saling memberikan pengalaman satu sama lainnya. Fenomenologi merupakan cara yang digunakan manusia untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung. (Littlejohn, 2009 : 57). Konsep pengalaman seseorang dalam memaknai sebuah fenomena menjadikannya sebagai sebuah pedoman untuk memahami konsep fenomena lain yang terjadi di hadapannya.
Komunikasi dipandang sebagai proses berbagi pengalaman antar individu melalui dialog. Hubungan baik antar individu mendapat kedudukan yang tinggi dalam tradisi ini. Meskipun fenomenologis mengacu pada terminologi filosofis, akan tetapi pada dasarnya lebih merujuk pada analisis yang insentif terhadap kehidupan sehari-hari dari sudut pandang orang yang mengalami kehidupan tersebut. Oleh karena itu, tradisi fenomenologis sangat bergantung pada persepsi dan interpretasi orang-orang tentang pengalaman subyektifnya.
Pakar tradisi fenomenologis Maurice Merleau-Ponty, menyatakan semua pengetahuan akan dunia, bahkan pengetahuan ilmiahnya, diperoleh dari beberapa pengalaman akan dunia. Dengan begitu, fenomenologis membuat pengalaman nyata sebagai data pokok sebuah realitas. Akan tetapi, tentu saja persoalannya tidak ada dua orang yang mempunyai cerita kehidupan yang persis sama.

B.        Asumsi Dasar Tradisi Fenomenologi
Ada tiga prinsip dasar dari fenomenologi menurut Stanley Deetz, yaitu :
1.    Pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar. Kita akan mengetahui dunia ketika kita berhubungan dengannya.
2.   Makna benda terdiri atas kekuatan benda adalam kehidupan sesesorang. Bagaimana seseorang memandang sesuatu benda, tergantung dari bagaimana berhubungan dengan benda itu untuk menetukan maknanya.
3.       Yang ketiga adalah bahasa adalah kendaraan dari makna. Semua orang mengalami dunia melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan dan mengekspresikan dunia itu.

C.        Varian Dalam Tradisi Fenomenologi
        Kajian fenomenologi terbagi menajdi tiga variasi yaitu:
a)        Fenomonologi Klasik
Dipelopori oleh Edmund Husserl penemu Fenomenologi Modern. Husserl percaya kebenaran hanya bisa didapatkan melalui pengarahan pengalaman.  seorang individu harus menyingkirkan frame of reference terlebih dahulu jika ingin memahami sesuatu yang terjadi di masyarakat secara mendalam. Dengan kata lain kesadaran akan pengalaman dari setiap individu adalah jalur yang tepat untuk memahami realitas. Hanya melaui kesadaran dan perhatian maka kebenaran dapat diketahui.
Seseorang harus mengesampingkan segala pemikiran dan kebiasaan untuk melihat pengalaman lain untuk dapat mengetahui sebuah kenyataan. Pada alur ini dunia hadir dengan sendirinya dalam alam sadar seseorang. Dalam artian menurut Husserl seseorang dapat memaknai suatu pengalaman secara objektif dengan tanpa membawa pemahaman orang itu sebelumnya terhadap pengalaman itu dalam artian harus objektif.
b)        Fenomenologi Persepsi
Berlawanan dengan Husserl yang membatasi fenomenologi pada objektivitas. Pencetus teori ini adalah Maurice Merleau Ponty, menyatakan bahwa pengalaman itu subjektif, bukan objektif dan percaya bahwa subjektivitas merupakan bentuk penting sebuah pengetahuan. Baginya, manusia merupakan sosok gabungan antara fisik dan mental yang menciptakan makna di dunia ini. Marleu Ponty menjelaskan manusia adalah kesatuan dari mental dan fisik yang mengartikan atau mempersepsikan dunia. Seseorang mengetahui berbagai hal hanya melalui hubungan seseorang ke berbagai hal tersebut. Sebagaimana pada umumnya manusia, seseorang dipengaruhi oleh dunia akan tetapi seseorang juga mempengaruhi dunia terhadap pengalaman tersebut.
Segala sesuatu tidak ada dengan sendirinya dan terpisah dari bagaimana semuanya diketahui. Manusia memberikan makna pada benda-benda di dunia, sehingga pengalaman fenomenologis apapun tentunya subjektif. Jadi, terdapat dialog antara manusia seebagai penafsir dan benda yang mereka tafsirkan.

c)         Fenomenologi Hermeneutik
Aliran ini selalu dihubungkan dengan Martin Heidegger dengan landasan filosofis yang juga biasa disebut dengan Hermeneutic of dasein yang berarti suatu “interpretasi untuk menjadi”. Yang paling utama bagi Heidegger adalah pengalaman tak dapat terjadi dengan hanya memperhatikan dunia. Menurut Heidegger pengalaman sesuatu tak dapat diketahui melalui analisa yang mendalam melainkan pengalaman seseorang yang mana diciptakan dengan penggunaan bahasa dalam keseharian. Apa yang nyata dan apa yang sekedar pengalaman melalui penggunaan bahasa.
Meski fenomenologi adalah sebuah filosofi yang mengagumkan, pada dasarnya menunjukkan analisis terhadap kehidupan sehari-hari. Titik berat tradisi fenomenologi adalah pada bagaimana individu mempersepsi serta memberikan interpretasi pada pengalaman subyektifnya. Menurut Littlejohn, interpretasi merupakan proses aktif pikiran dan tindakan kreatif dalam mengklarifikasi pengalaman pribadi. Bagi seorang fenomenologis, cerita kehidupan seseorang lebih penting daripada axioma-axioma komunikasi.

3.       Tradisi Komunikasi Sibernetika 
A.        Apa itu Sibernetika (Cybernetic)
Sibernetika merupakan tradisi sistem-sistem kompleks yang didalamnya banyak orang saling berinteraksi, mempengaruhi satu sama lainnya. Dalam tradisi ini menjelaskan bagaimana proses fisik, biologis, sosial, dan perilaku bekerja.
Dalam sibernetika komunikasi dipahami sebagai sistem bagian-bagian atau variabel yang mempengaruhi satu sama lainnya, membentuk serta mengontrol karakter keseluruhan sistem, dan layaknya organisme menerima keseimbangan dan perubahan.

B.        Asumsi Dasar Tradisi Sibernetika
Sibernetika dalam kesan yang sempit dipopulerkan oleh Norbert Wiener pada tahun 1950-an. Sebagai kajian sibernetika merupakan cabang dari teori sistem yang memfokuskan diri pada putaran timbal balik dan proses-proses kontrol. Konsep ini mengarahkan pada seseorang atas pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana sesuatu saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam cara yang tak berujung. Jadi dalam tradisi ini konsep-konsep penting yang dikaji antara lain pengirim, penerima, informasi, umpan balik, redudancy, dan sistem. Walaupun dalam tradisi ini seringkali mendapat kritik terutama berkenaan dengan pandangan asumtif yang cenderung menyamakan antara manusia dengan mesin dan menganggap bahwa suatu realitas atau gejala timbul karena hubungan sebab akibat yang linier.
Jadi dalam tradisi ini konsep-konsep penting yang dikaji antara lain pengirim, penerima, informasi, umpan balik, redudancy, dan sistem. Walaupun dalam tradisi ini seringkali mendapat kritik terutama berkenaan dengan pandangan asumtif yang cenderung menyamakan antara manusia dengan mesin dan menganggap bahwa suatu realitas atau gejala timbul karena hubungan sebab akibat yang linier.

C.        Varian Dalam Tradisi Sibernetika
Ada tiga macam Teori dalam Tradisi Cybernetic yaitu Basic System Theory, General System Theory dan second order Cybernetic.
1)        Basic System Theory
Teori ini adalah format dasar, pendekatan ini melukiskan seperti sebuah struktur yang nyata dan bisa di analisa dan diamati dari luar. Dengan kata lain seseorang dapat melihat bagian dari system dan bagaimana mereka saling berhubungan. Seseorang dapat mengamati secara obyektif mengukur antara bagian dari system dan seseorang dapat mendeteksi input maupun output dari system. Lebih lanjut mengoperasikan atau memanipulasi system dengan mengganti input dan tanpa keahlian karena semua diproses melalui mesin. sebagai alat bantu bagi para professional seperti system analyst, konsultan manajemen, dan system designer telah membangun sebuah system analisa dan mengembangkannya.

2)        General System Theory
Teori ini diformulasikan oleh Ludwig Von Bertalanffy seorang biologis. Bertalanffy menggunakan General System Theory sebagai sarana pendekatan multidisiplin kepada ilmu pengetahuan. System ini menggunakan prinsip untuk melihat bagaiamana sesuatu pada banyak bidang yang berbeda menjadi selaras antara satu dengan yang lain. Pembentukan sebuah kosa kata untuk mengkomunikasikan lintas disiplin ilmu.

3)        Second Order Cybernetic
Dikembangkan sebagai sebuah alternative dari dua tradisi Cybernetic sebelumnya. Second order Cybernetic membuat pengamat tak dapat melihat bagaimana sebuah system bekerja di luar dengan sendirinya dikarenakan pengamat selalu ditautkan dengan system yang menjadi pengamatannya. Melalui perspektif ini kapanpun seseorang mengamati system ini maka seseorang akan saling mempengaruhi. Karena hal ini memperlihatkan bagaimana sebuah pengetahuan, sebuah produk menjerat antara yang mengetahui dan yang diketahui.

4.        Tradisi Komunikasi Sosiopsikologis 

A.        Apa itu Sosiopsikologis
Berangkat dari Ilmu Psikologi terutama aliran behavioral. Psikologi Sosial memberi perhatian akan pentingnya interaksi yang mempengaruhi proses mental dalam diri individu. Aktivitas komunikasi merupakan salah satu fenomena psikologi sosial seperti pengaruh media massa, propaganda, atau komunikasi antar personal lain.

B.        Asumsi Dasar Tradisi Sosiopsikologis
Tradisi ini mengkaji individu sebagai makhluk sosial merupakan tujuan dari tradisi sosiopsikologis. Berasal dari kajian psikologi sosial, tradisi ini memiliki tradisi yang kuat dalam komunikasi.
Tradisi ini mewakili perspektif objektif/scientific. Penganut tradisi ini percaya bahwa kebenaran komunikasi bisa ditemukan melalui pengamatan yang teliti dan sistematis. Tradisi ini mencari hubungan sebab-akibat yang dapat memprediksi kapan sebuah perilaku komunikasi akan berhasil dan kapan akan gagal. Adapun indikator keberhasilan dan kegagalan komunikasi terletak pada ada tidaknya perubahan yang terjadi pada pelaku komunikasi. Semua itu dapat diketahui melalui serangkaian eksperimen.
Salah satu tokoh tradisi ini adalah Carl I Hovland, seorang ahli psikologi yang sekaligus peletak dasar-dasar penelitian eksperimen yang berkaitan dengan efek-efek komunikasi. Penelitiannya berupaya:
1.    Menjadi peletak dasar proposisi empirik yang berkaitan dengan hubungan antara stimulus komunikasi, kecenderungan audiens dan perubahan opini.
2.        Memberikan kerangka awal untuk membangun teori berikutnya. Efek utama yang diukur adalah perubahan pendapat yang dinyatakan melalui skala sikap yang diberikan sebelum dan sesudah pesan disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Jadi perhatian penting dalam tradisi ini antara lain perihal pernyataan, pendapat (opini), sikap, persepsi, kognisi, interaksi dan efek (pengaruh).

Jadi perhatian penting dalam tradisi ini antara lain perihal pernyataan, pendapat(opini), sikap, persepsi, kognisi, interaksi dan efek (pengaruh).

C.        Varian Dalam Tradisi Sosiopsikologis
Adapun Varian dari Tradisi ini adalah:
1)     Perilaku, memberikan perhatian pada bagaimana seseorang berperilaku/bertindak dalam berbagai situasi komunikasi yg dihadapinya. Teori ini melihat hubungan yang kuat antar stimulus yang diterima & respons yang diberikan
2)   Koginitif, cabang ini cukup banyak digunakan saat ini berpusat pada pola pemikiran. cabang ini berkonsentrasi pada bagaimana individu memperoleh, menyimpan dan memproses informasi dalam cara yang mengarahkan output perilaku.
3)      Biologis, menjelaskan bagaimana peran dari struktur & fungsi otak serta faktor genetis yang dimiliki seseorang mempengaruhi perilakunya.


5.       Tradisi sosiokultural
A.        Apa itu Sosiokultural
Tradisi sosial budaya berangkat dari kajian antropologi. Bahwa komunikasi berlangsung dalam kontek budaya tertentu karenanya komunikasi dipengaruhi dan mempengaruhi kebudayaan suatu masyarakat. Konsep kebudayaan yang dirumuskan Clifford Geertz tentu saja menjadi penting. Media massa, atau individu ketika melakukan aktivitas komunikasi ikut ditentukan faktor-faktor situasional tertentu

B.        Asumsi Dasar Tradisi Sosiokultural
Pendekatan sosiokultural terhadap teori komunikasi menunjukkan cara pemahaman kita terhadap makna, norma, peran dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam komunikasi. Premis tradisi ini adalah ketika orang berbicara, mereka sesungguhnya sedang memproduksi dan memproduksi kembali budaya. Sebagian besar dari kita beranggapan bahwa kata-kata mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi. Pandangan kita tentang realitas dibentuk oleh bahasa yang telah kita gunakan sejak lahir.
Ahli bahasa Universitas Chicago, Edwar Sapir dan Benyamin Lee Whorf adalah pelopor tradisi sosio cultural. Hipotesis yang diusungnya adalah struktur bahasa suatu budaya menentukan apa yang orang pikirkan dan lakukan. Dapat dibayangkan bagaimana seseorang menyesuaikan dirinya dengan realitas tanpa menggunakan bahasa, dan bahwa bahasa hanya semata-mata digunakan untuk mengatasi persoalan komunikasi atau refleksi tertentu. Hipotesis ini menunjukkan bahwa proses berpikir kita dan cara kita memandang dunia dibentuk oleh struktur gramatika dari bahasa yang kita gunakan.
Secara fungsional, bahasa adalah alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan (socially shared), karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Bahasa diungkapkan dengan kata-kata dan kata-kata tersebut sering diberi arti arbiter (semaunya). Contoh; terhadap buah pisang, orang Sunda menyebutnya cau dan orang Jawa menyebutnya gedang.
Secara formal, bahasa adalah semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan bahasa. Setiap bahasa dapat dikatakan mempunyai tata bahasa/ grammarnya tersendiri. Contoh: sebuah kalimat dalam bahasa Indonesia yang berbunyi “dimana saya dapat menukar uang ini?”, maka akan ditulis dalam bhasa Inggris “where can I Change some money?”


C.        Varian Dalam Tradisi Sosiokultural
Layaknya semua tradisi, sosiokultural memiliki beragam sudut pandang yang berpengaruh yaitu paham interkasi simbolis, konstruksionisme, sosiolinguistik, filosofi bahasa, etnografi dan etnometodologi.
1)   Paham interaksi simbolis berasal dari kajian sosiologi melalui penelitian Herbert Blumer dan George Herbert Mead yang menekankan pentingnya observasi partisipan dalam kajian komunikasi sebagai cara dalam mengeksplorasi hubungan-hubungan sosial.
2)   Pandangan konstruktivisme sosial merupakan sebuah pandangan yang mengkaji bagaimana pengetahuan manusia dibentuk melalui interaksi sosial. Identitas dari sesuatu dihasilkan dari bagaimana kita membicarakan suatu objek , bahasa yang digunakan untuk menampung konsep kita dengan cara di mana group sosial berorientasi pada pengalaman mereka.
3)   sosiolinguistik atau kajian bahasa dan budaya. Sebagaimana kita ketahui manusia menggunakan bahasa secara berbeda dalam kelompok budaya dan kelompok sosial yang berbeda.
4)   Sudut pandang lain yang berpengaruh dalam pendekatan sosiokultural adalah etnografi atau observasi tentang bagaimana kelompok sosial membangun makna melalui perilaku linguistik dan non linguistik mereka.

6.       Tradisi Kritis
A.        Apa itu Kritis
Tradisi ini dapat menjelaskan baik lingkup komunikasi antar personal maupun komunikasi bermedia. Komunikasi dalam tradisi ini diharapkan dapat berperan sebagai alat transformasi masyarakat.

B.        Asumsi Dasar Tradisi Kritis
Tradisi ini berangkat dari asumsi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya kesenjangan di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut pandang kritis. Komunikasi dianggap memiliki dua sisi berlawanan, dimana disatu sisi ditandai dengan proses dominasi kelompok yang kuat atas kelompok masyarakat yang lemah. Pada sisi lain, aktivitas komunikasi mestinya menjadi proses artikulasi bagi kepentingan kelompok masyarakat yang lemah.
Istilah teori kritis berasal dari kelompok ilmuwan Jerman yang dikenal dengan sebutan “Frankfurt School”. Para teoritisinya mengadopsi pemikiran Marxis. Kelompok ini telah mengembangkan suatu kritik sosial umum, di mana komunikasi menjadi titik sentral dalam prinsip-prinsipnya. Sistem komunikasi massa merupakan focus yang sangat penting di dalamnya. Tokoh-tokoh pelopornya adalah Max Horkheimer, Theodore Adorno serta Herbert Marcuse. Pemikirannya disebut dengan teori kritis. Ketika bangkitnya Nazi di Jerman, mereka berimigrasi ke Amerika. Di sana mereka menaruh perhatian besar pada komunikasi massa dan media sebagai struktur penindas dalam masyarakat kapitalistik, khususnya struktur di Amerika.
Teori kritis menganggap tugasnya adalah mengungkap kekuatan-kekuatan penindas dalam masyarakat melalui analisis dialektika. Teori kritis juga memberikan perhatian yang sangat besar pada alat-alat komunikasi dalam masyarakat. Komunikasi merupakan suatu hasil dari tekanan antara kreativitas individu dalam memberi kerangka pesan dan kendala-kendala sosial terhadap kreativitas tersebut. Salah satu kendala utama pada ekspresi individu adalah bahasa itu sendiri. Kelas-kelas dominan dalam masyarakat menciptakan suatu bahasaa penindasan dan pengekangan, yang membuat kelas pekerja menjadi sangat sulit untuk memahami situasi mereka dan untuk keluar dari situasi tersebut. Kewajiban dari teori kritis adalah menciptakan bentuk-bentuk bahasa baru yang memungkinkan diruntuhkannya paradigma dominan. Hal itulah yang diungkapkan oleh Jurgen Habermas, tokoh terkemuka kelompok Franfurt School di era berikutnya.

C.        Varian Dalam Tradisi Kritis
Tradisi ini begitu kaya akan gagasan-gagasannya. Gagasan pertama dalam tradisi ini adalah marxisme yang merupakan peletak dasar dari tradisi kritis ini.  Marx mengajarkan bahwa ekonomi merupakan dasar dari segala struktur sosial. Praktek-praktek komunikasi dilihat sebagai hasil dari tekanan antara kreativitas individu dan desakan sosial kreativitas itu (Littlejohn & Foss 70-71)
1)      Kritik Politik ekonomi 
Pandangan ini merupakan revisi terhadap Marxisme yang dinilai terlalu menyederhanakan realitas kedalam dua kubu yaitu kalangan penguasa dan kalangan tertindas berdasarkan kepentingan ekonomi. Sebaliknya, mereka yang mencoba tetap menggunakan asumsi Marxist namun memandang bahwa dalam realitas sosial yang komplek sesungguhnya terjadi pertarungan ideologi.
2)      Gagasan yang kedua terlontar dari mazhab Frankfurt School
Digawangi oleh Theodore Adorno, Max Horkheimer, dan Herbert Marcuse. Pengikut mazhab ini percaya bahwa dalam rangka mempromosikan suatu filosofi sosial, teori kritis mampu menawarkan suatu interkoneksi dan pengujian yang menyeluruh perubahan bentuk dari masyarakat, kultur ekonomi, dan kesadaran.
3)      Gagasan post-modernisme
Ditandai dengan relativitas, ketiadaan standarisasi nilai, menolak pengetahuan yang sudah jadi dan dianggap sebagai sesuatu yang sakral (grand narative). Menghargai hal-hal yang lokal, keunikan, dan semacamnya.
4)      Gagasan Cultural Studies
Memberi perhatian kepada kajian terhadap ideologi yang mendominasi suatu budaya yang berfokus kepada perubahan sosial serta hal-hal yang positif  di dalam budaya itu sendiri.
5)      Gagasan Post-strukturalis
Yakni pandangan yang memandang realitas merupakan sesuatu yang komplek dan selalu dalam proses sedang menjadi. Realitas tidak sebagaimana pandangan kalangan strukturalis yang melihat sudah bersifat teratur, tertata, dan terstruktur. Realitas merupakan suatu proses pembentukan yang berlangsung terus menerus dengan melibatkan banyak kalangan dengan identitas masing-masing. Yang menonjol adalah terdapatnya proses artikulasi dari masing-masing kalangan.
6)      Gagasan Post-kolonialisme
Memperhatikan pola-pola komunikasi yang ada pada semua kultur yang dipengaruhi oleh masa imperialisme dari masa penjajahan hingga saat ini.
7)      Paradigma atau kajian feminisme
Kajian ini memiliki beragam definisi mulai dari pergerakan untuk menyelamatkan hak-hak perempuan hingga perjuangan untuk menegaskan perbedaannya. Penelitian feminis lebih dari sekedar kajian terhadap gender. Feminisme berupaya untuk memusatkan teori terhadap pengalaman perempuan dan untuk membicarakan kategori-kategori gender dan sosial lainnya, termasuk ras, etnis, kelas, dan seksualitas.
Kesemua gagasan dalam teori kritis ini tentunya merefleksikan begitu banyak dan luas kajian budaya dalam ilmu komunikasi.

Tradisi kritis memiliki 3 keunggulan atau keistimewaan pokok, yaitu:
1.    Tradisi kritik mencoba memahami sistem yang sudah dianggap benar, struktur kekuatan dan keyakinan atau ideologi, yang mendominasi masyarakat dengan pandangan tertentu di mana minat-minat disajikan oleh struktur-struktur kekuatan tersebut. Pertanyaan seperti siapa yang boleh dan yang tidak boleh berbicara, apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan, siapa yang mengambil keuntungan dari sistem-sistem tertentu,menjadi hal biasa yang ditanyakan oleh para ahli teori kritik.
2.    Para ahli teori kritik umumnya tertarik membuka kondisi-kondisi sosial yang menindas dan rangkaian kekuatan untuk mempromosikan emansipasi atau masyarakat yang lebih bebas dan lebih berkecukupan. Memahami penindasan dalam menghapus ilusi-ilusi ideologi dan bertindak mengatasi kekuatan-kekuatan yang menindas.
3.    Teori kritik menciptakan kesadaran untuk menggabungkan teori dan tindakan. Teori-teori tersebut bersifat normatif dan bertindak untuk mendapatkan atau mencapai perubahan dalam kondisi-kondisi yang memengaruhi masyarakat. Wajarlah, teori kritik kerap kali menggabungkan diri dengan minat-minat dari kelompok yang terpinggirkan.

7.       Tradisi Retorika
A.        Apa itu Retorika
Menurut Aristoteles, retorika adalah seni membujuk atau the art of  persuation (M. Djen Amar, 1986, hlm. 11).  Sunarjo (1983) mendefinisikan retorika sebagai suatu komunikasi di mana komunikator berhadapan langsung dengan massa atau berhadapan dengan komunikan (audience) dalam bentuk jamak. Aristoteles berpendapat bahwa retorika itu sendiri sebenarnya bersifat netral. Maksudnya adalah orator itu sendiri bisa memiliki tujuan yang mulia atau justru hanya menyebarkan omongan yang tidak sesuai atau bahkan dusta belaka. Menurutnya, “…by using these justly one would do the greatest good, and unjustly, the greatest harm” .
Rethoric, salah satu karya terbesar Aristoteles, banyak dilihat sebagai studi tentang psikologi khalayak yang sangat bagus. Aristoteles dinilai mampu membawa retorika menjadi sebuah ilmu, dengan cara secara sistematis menyelidiki efek dari pembicara, orasi, serta audiensnya. Orator sendiri dilihat oleh Aristoteles sebagai orang yang menggunakan pengetahuannya sebagai seni. Jadi, orasi atau retorika adalah seni berorasi.

B.        Asumsi Dasar Tradisi Retorika
 Tradisi ini melihat bagaimana seseorang melakukan sebuah orasi dan menitikberatkan pada aspek ethos patos logos. Ethos berfokus pada kecerdasan sang orator dalam mengolah kata-kata dan menyampaikannya pada audience, patos merujuk pada emosi pendengar dalam menerima pesan dan logos merujuk pada aspek logis dari apa yang disampaikan oleh sang orator.
Awalnya retorika berhubungan dengan persuasi, sehingga dimaknai sebagai seni penyusunan argumen dan pembuatan naskah pidato. Lantas berkembang meliputi proses “adjusting ideas to people and people to ideas” dalam segala jenis pesan. Fokus dari retorika telah diperluas bahkan lebih mencakup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk memengaruhi lingkungan di sekitarnya dan untuk membangun dunia tempat mereka tinggal.
Pusat dari tradisi retorika adalah 5 karya agung retorika yakni: penemuan, penyusunan, gaya, penyampaian dan daya ingat. Semuanya adalah elemen-elemen dalam mempersiapkan sebuah pidato, sedangkan pidato orang Yunani dan Roma kuno berhubungan dengan ide-ide penemuan, pengaturan ide, memilih bagaimana membingkai ide-ide tersebut dengan bahasa serta akhirnya penyampaian isu dan daya ingat. Penemuan, mengacu pada konseptualisasi yakni proses menentukan makna dari simbol melalui interpretasi, respons terhadap fakta yang tidak mudah ditemukan pada apa ayang telah ada, tetapi menciptakannya melalui penafsiran dari kategori-kategori yang digunakan.
Ada enam keistimewaan yang mencirikan tradisi ini:
a)   Keyakinan bahwa berbicara membedakan manusia dari binatang.
b)   Ada kepercayaan bahwa pidato publik yang disampaikan dalam forum demokrasi adalah cara yang lebih efektif untuk memecahkan masalah politik.
c) Retorika merupakan sebuah strategi di mana seorang pembicara mencoba mempengaruhi seorang audiens dari sekian banyak audiens melalui pidato yang jelas-jelas bersifat persuasive. Public speaking pada dasarnya merupakan komunikasi satu arah.
d)   Pelatihan kecakapan pidato adalah dasar pendidikan kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mampu menciptakan argumen-argumen yang kuat lalu dengan lantang menyuarakannya.
e)   Menekankan pada kekuatan dan keindahan bahasa untuk menggerakkan orang banyak secara emosional dan menggerakkan mereka untuk beraksi/bertindak. Pengertian Retorika lebih merujuk kepada seni bicara daripada ilmu berbicara.
f) Sampai tahun 1800-an, perempuan tidak memiliki kesempatan untuk menyuarakan haknya. Jadi retorika merupakan sebuah keistimewaan bagi pergerakan wanita di Amerika yang memperjuangkan haknya untuk bisa berbicara di depan publik.

C.        Varian Dalam Tradisi Retorika
Retorika diartikan berbeda pada setiap zaman kita mengenal ada tujuh masa perkembangan dari retorika yaitu, klasik, abad pertengahan, masa renaissance, penerangan , kontemporer dan post modern.

1)      Era Klasik
Didominasi oleh aliran seni dalam berbicara, kaum sophist sebagai pelopor aliran ini berkeliling mengajarkan retorika tentang bagaimana berargumen dan memenangkan sebuah kasus pada masa awal di mana retorika baru diperkenalkan. Plato sangat tidak menyukai aliran sophist ini dan menjuluki kaum sophis ini karena mereka berorientasi bagaimana menang dalam berdebat karena menurut plato yang nota bene beraliran filosof bahwa retorika digunakan untuk alat berdialog untuk mencapai kebenaran yang absolute.

2)     Abad Pertengahan
study tentang retorika berfokus pada pengaturan gaya, namun Retorika pada abad pertengahan dicela sebab dianggap sebagai ilmu kaum penyembah berhala dan tidak perlu dipelajari sebab agama Kristen dapat memperlihatkan kebenarannya dengan sendiri. Pada abad ini bisa dikata sebagai the end of retorika. Sebelum agustine seorang guru retorika mengatakan dalam buku doktrin Kristen bahwa retorika dibutuhkan bagi seorang pendeta untuk dapat menerangkan retorika dan menyenangkan umatnya.

3)      Renaissance
Masa ini dianggap sebagai kelahiran kembali retorika sebagai suatu seni. Para sarjana humanis member perhatian dan concern pada semua aspek untuk kemanusiaan, penelitian kembali text-text retorika klasik dalam rangka memahami manusia.
4)      Abad Pencerahan
Selama masa ini para pemikir seperti Rene Descartes  dalam rangka menentukan apa yang bisa disebut sebagai suatu yang absolute dan objective pada pikiran manusia. Francis Bacon mengatakan retorika menggerakkan imajinasi pada pergerakan yang lebih baik. Logika atau pengetahuan merupakan bagian dari bahasa , dan retorika menjadi sarana untuk mengetahui suatu atau menyampaikan suatu kebenaran. Hal ini menjadikan retorika kembali menjadi citra yang baik seperti saat ini.

5)      Pada masa Retorika kontemporer    
Diringi dengan tumbuhnya minat retorika seperti jumlah dan macam symbol meningkat. Apalagi dengan kehadiran media massa maka penyampaian pesan disampaiakn secara visual dan verbal.

6)      Retorika Postmodern    

Tidak lagi berpaku pada gaya retorika yang dikembangkan oleh barat dia menyesuaikan retorika sesuai dengan budaya tempat di mana pesan disampaikan. Aliran ini merupakan alternative yang dimulai dari asumsi yang berbeda, nilai nilai acuan yang berbeda, untuk menghasilkan suatu retorika yang berbeda pula.

0 komentar:

Poskan Komentar